KKN 37 UPGRIS Mengadakan Sosialisasi Anti Bullying di SDN 02 Rowoboni
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 37 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS)
menggelar sosialisasi pencegahan bullying untuk siswa kelas 2 dan 3 di SDN 2 Rowoboni,
Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, pada Jum’at (31/1/2025).
Sosialisasi diawali dengan penjelasan
mengenai definisi bullying, yang dijelaskan sebagai tindakan agresif
yang dilakukan secara berulang dengan tujuan menyakiti atau merendahkan orang
lain. Mahasiswa KKN mengajak siswa untuk mengenali berbagai bentuk bullying,
baik secara fisik maupun verbal, serta dampak negatif yang ditimbulkan
bagi korban.
Dalam sesi ini, siswa diajak untuk memahami
pentingnya saling menghormati, berempati, dan menjaga hubungan baik dengan
teman-teman mereka. Diskusi interaktif pun dilakukan, di mana siswa berbagi
pengalaman mengenai perilaku bullying yang pernah mereka saksikan.
Sebagai bentuk komitmen untuk mencegah bullying, mahasiswa KKN mengajak siswa membuat janji bersama untuk tidak melakukan tindakan perundungan dalam bentuk apa pun. Kegiatan ini dilanjutkan dengan menyanyikan lagu anti-bullying, yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai positif dengan cara yang menyenangkan dan mudah diingat oleh anak-anak.
Kepala SDN 2 Rowoboni, Wahyu Setyaning
Nugroho, menyampaikan bahwa sekolah telah menerapkan program bimbingan karakter
yang disampaikan dalam upacara oleh pimpinan sekolah serta melalui arahan wali
kelas. Para guru selalu menekankan pentingnya menjaga sikap baik terhadap
teman, termasuk larangan mengejek, memukul, atau mendorong. Selain itu, sekolah
juga telah memasang informasi anti-bullying di setiap sudut kelas dan mading
sebagai pengingat bagi siswa.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari
siswa dan guru. Para guru berharap sosialisasi ini dapat menekan angka
perundungan di sekolah dan membangun lingkungan belajar yang lebih aman dan
nyaman bagi semua siswa.
Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 37 pun
berharap bahwa dengan adanya sosialisasi ini, pemahaman siswa mengenai bullying
dapat meningkat dan mereka berani mengambil sikap untuk mencegahnya. Dengan
begitu, tercipta lingkungan sekolah yang lebih positif, penuh empati, dan bebas
dari perundungan.


Komentar
Posting Komentar